Pengertian Kredit menurut Para Ahli- Berikut
beberapa pendapat para ahli yang telah menyumpangkan pemikiran dalam
mendefinisikan arti kredit antara lain sebagai berikut..
- Brymont P.Kent: Pengertian
kredit menurut pendapat Brymont P. Kent adalah hak untuk menerima
pembayaran atau kewajiban melakukan pembayaran pada waktu diminta atau
pada waktu yang akan datang, karena penyerahan barang-barang pada waktu
sekarang.
- Rolling G. Thomas: Menurutnya,
pengertian kredit adalah kepercayaan si peminjam untuk membayar sejumlah
uang pada masa yang akan datang.
- Amir R. Batubara: Menurut
Amir. R. Batubara, pengertian kredit adalah pemberian prestasi yang kontra
prestasinya akan terjadi sejumlah uang di masa yang akan datang
- Firdaus dan Ariyanti: Pengertian
kredit menurut firdaus dan ariyanti yang mendefinisikan arti kredit adalah
suatu reputasi yang dimiliki seseorang yang memungkinkan ia bisa
memperoleh uang, barang-barang atau tenaga kerja, dengan jalan menukarkan
dengan suatu perjanjian untuk membayarnya disuatu waktu yang akan
datang.
- Melayu S.P. Hasibuan: Arti
kredit adalah semua jenis pinjaman yang harus dibayar kembali bersama
bunganya oleh peminjam sesuai perjanjian yang telah disepakati.
- Anwar: Pengeritan kredit menurut Anwar
adalah pemberian prestasi (jasa) oleh pihak yang satu ke pihak yang lain
dan prestasinya dikembalikan dalam jangka waktu tertentu bersama uang
sebagai kontraprestasinya (balas jasa).
- Thomas Suyatno: Kredit
adalah penyediaan uang yang disamakan tagihan-tagihannya yang sesuai
dengan persetujuan antara peminjam dan meminjamkan.
- Muljono: Menurut Muljono, pengertian
kredit adalah kemampun untuk menjalankan pembelian atau melaksanakan suatu
pinjaman dengan perjanjian untuk membayar di waktu yang telah
ditentukan.
- Dr. Al-Amin Ahmad: Menurutnya,
pengertian kredit adalah membayar hutang yang dilakukan secara
berangsur-angsur pada tempi yang ditetapkan atau ditentukan.
Perkataan
“kredit” telah lazim digunakan pada praktik perbankan dalam pemberian berbagai
fasilitas yang berkaitan dengan pinjaman. Pengertian “kredit” dalam
penggunaan yang semakin meluas perlu untuk ditelusuri, sejauh mana relevansi
penggunaannya dalam praktik bisnis umumnya dan perbankan khususnya.
Kata “kredit”
berasal dari bahasa Romawi “credere” yang berarti percaya atau “credo”
atau “creditum” yang berati saya percaya. Maksudnya si pemberi kredit
percaya kepada si penerima kredit, bahwa kredit yang disalurkannya pasti
akan dikembalikan sesuai perjanjian. Sedangkan bagi si penerima kredit berarti
menerima kepercayaan, sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar kembali
pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktunya. Kredit Perbankan diatur Pada UUD No. 10 Tahun
1998
”UU No. 10 tahun 1998 menyebutkan bahwa kredit
adalah "penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank
dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya
setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga".
Sedangkan pengertian kredit
menurut Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998:
“Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang
dapat disamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan
pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam
untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.”
Fungsi Kredit
Kredit di
awal perkembangan fungsinya untuk merangsang kedua belah pihak untuk saling
menolong dengan tujuan pencapaian kebutuhan, baik itu dalam bidang usaha atau
kebutuhan sehari-hari. Kredit dapat memenuhi fungsinya jika secara sosial
ekonomis baik bagi debitur, kreditur, atau masyarakat membawa pengaruh yang
lebih baik.
Fungsi Kredit - Dari manfaat yang nyata dan juga manfaat yang diharapkan, maka kredit dalam kehidupan perekonomian dan perdagangan memiliki fungsi. Macam-macam fungsi kredit adalah sebagai berikut.
Fungsi Kredit - Dari manfaat yang nyata dan juga manfaat yang diharapkan, maka kredit dalam kehidupan perekonomian dan perdagangan memiliki fungsi. Macam-macam fungsi kredit adalah sebagai berikut.
- Meningkatkan
daya guna uang
- Meningkatkan
kegairahan berusaha
- Meningkatkan
peredaran dan lalu lintas uang
- Merupakan
salah satu alat stabiltias perekonomian
- Meningkatkan
hubungan internasional
- Meningkatkan
daya guna dan juga peredaran barang
- Meningkatkan
pemerataan pendapatan
- Sebagai
motivator dan dinamisator kegiatan perdagangan dan perekonomian
- Memperbesar
modal dari perusahaan
- Dapat
meningkatkan IPC (income per capita) masyarakat
- Mengubah
cara berfikir dan tindakan masyarakat agar bernilai ekonomis
Dalam kata kredit terkandung unsur-unsur yang
direkatkan menjadi satu. Sehingga jika kita bicara kredit maka termasuk
membicarakan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya.
1.
Kepercayaan
Kepercayaan merupakan suatu
keyakinan bagi pemberi kredit bahwa kredit yang diberikan benar-benar diterima
kembali di masa yang akan datang sesuai jangka waktu kredit. Kepercayaan
diberikan oleh bank sebagai dasar utama yang melandasi mengapa suatu kredit
berani dikucurkan.
2. Kesepakatan
Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian di mana masing-masing pihak (si pemberi kredit dengan si penerima kredit) menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing. Kesepakatan ini kemudian dituangkan dalam suatu akad kredit dan ditandatangani kedua belah pihak sebelum kredit dikucurkan.
Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian di mana masing-masing pihak (si pemberi kredit dengan si penerima kredit) menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing. Kesepakatan ini kemudian dituangkan dalam suatu akad kredit dan ditandatangani kedua belah pihak sebelum kredit dikucurkan.
3. Jangka waktu
Jangka waktu mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Jangka waktu tersebut bisa berbentuk jangka pendek (di bawah 1 tahun), jangka menengah (1 sampai 3 tahun) atau jangka panjang (di atas 3 tahun). Jangka waktu merupakan batas waktu pengembalian angsuran kredit yang sudah disepakati kedua belah pihak. Untuk kondisi tertentu jangka waktu ini dapat diperpanjang sesuai kebutuhan.
Jangka waktu mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Jangka waktu tersebut bisa berbentuk jangka pendek (di bawah 1 tahun), jangka menengah (1 sampai 3 tahun) atau jangka panjang (di atas 3 tahun). Jangka waktu merupakan batas waktu pengembalian angsuran kredit yang sudah disepakati kedua belah pihak. Untuk kondisi tertentu jangka waktu ini dapat diperpanjang sesuai kebutuhan.
4. Risiko
Akibat adanya tenggang waktu, maka pengembalian kredit akan memungkinkan suatu resiko tidak tertagihnya atau macet pemberian suatu kredit. Semakin panjang suatu jangka waktu kredit, maka semakin besar resikonya. Resiko ini menjadi tanggungan bank, baik resiko yang disengaja oleh nasabah maupun resiko yang tidak disengaja, misalnya karena bencana alam atau bangkrutnya usaha nasabah tanpa ada unsur kesengajaan lainnya, sehingga nasabah tidak mampu lagi melunasi kredit yang diperolehnya.
Akibat adanya tenggang waktu, maka pengembalian kredit akan memungkinkan suatu resiko tidak tertagihnya atau macet pemberian suatu kredit. Semakin panjang suatu jangka waktu kredit, maka semakin besar resikonya. Resiko ini menjadi tanggungan bank, baik resiko yang disengaja oleh nasabah maupun resiko yang tidak disengaja, misalnya karena bencana alam atau bangkrutnya usaha nasabah tanpa ada unsur kesengajaan lainnya, sehingga nasabah tidak mampu lagi melunasi kredit yang diperolehnya.
5. Balas Jasa
Balas jasa bagi bank merupakan keuntungan atau pendapatan atas pemberian kredit. Dalam bank konvensional balas jasa dikenal dengan nama bunga. Selain balas jasa dalam bentuk bunga, bank juga membebankan kepada nasabah biaya administrasi kredit yang juga merupakan keuntungan bank. Bagi bank dengan prinsip syariah balas jasanya ditentukan dengan prinsip bagi hasil.
Balas jasa bagi bank merupakan keuntungan atau pendapatan atas pemberian kredit. Dalam bank konvensional balas jasa dikenal dengan nama bunga. Selain balas jasa dalam bentuk bunga, bank juga membebankan kepada nasabah biaya administrasi kredit yang juga merupakan keuntungan bank. Bagi bank dengan prinsip syariah balas jasanya ditentukan dengan prinsip bagi hasil.
Tujuan Kredit
Tujuan
Kredit
- Mendapatkan
pendapatan bank pada hasil bunga kredit yang diterima
- Memproduktifkan
dan memanfaatkan dana-dana yang ada
- Menjalankan
pada kegiatan operasionak bank
- Menambah
modal kerja di perusahaan
- Mempercepat
lalu lintas pembayaran
- Meningkatkan
kesejahteraan dan pendapatan dari masyarakat
Prinsip-Prinsip/Syarat Kredit
Dalam mendapatkan kredit, terdapat macam-macam
prosedur yang harus dilewati yang ditentukan oleh bank atau lembaga keuangan
agar berjalan dengan baik dan sehat terdapat sebutan 6 C yang merupakan
prinsip-prinsip kredit antara lain sebagai berikut.
1. Character
(kepribadian/watak): Kepribadian adalah sifat atau watak pribadi dari
debitur untuk mendapatkan kredit, seperti kejujuran, sikap motivasi usaha, dan
lain sebagainya
.
2. Capacity
(kemampuan): Kemampuan adalah kemampuan modal yang dimiliki untuk
memenuhi kewajiba tepat pada waktunya, khususnya dalam likuiditas,
rentabilitas, solvabilitas, dan soliditasnya.
3. Capital
(modal): Modal adalah kemampuan debitur dalam melaksanakan kegiatan usaha atau
menggunakan kredit dan mengembalikannya.
4. Collateral
(jaminan): Jaminan adalah jaminan yang harus disediakan untuk pertanggung jaaban jika
debitur tidak dapat melunasi utangnya.
5. Condition of
Economic (kondisi ekonomi): Kondisi ekonomi adalah keadaan ekonomi suatu negara
secara menyeluruh dan memberikan dampak kebijakan pemerintah di bidang moneter,
terutama berhubungan dengan kredit perbankan.
6. Constrain
(batasan atau hambatan): Batasan atau hambatan adalah penilaian debitur yang
dipengaruhi oleh hambatan yang tidak memungkinkan seseorang untuk usaha di
suatu tempat.
Prinsip-prinsip
kredit yang dikenal dengan 4 P antara lain sebagai berikut.
1. Personality:
Personality
adalah penilaian bank mengenai kepribadian peminjam, misalnya riwayat hidup,
hobinya, keadaan keluarga (istri atau anak), social standing (pergaulan di
masyarakat serta bagaimana masyarakat mengenai diri si peminjam dan
sebagainya.
2. Purpose: Purpose
adalah bank menilai peminjam mencari dana mengenai tujuan atau keperluan dalam
penggunaan kredit, dan apakah tujuan dari penggunaan kredit itu sesuai dengan
line of business kredit bak bersangkutan.
3.
Payment: Payment adalah untuk mengetahui
kemampuan dari debitur mengenai pengembalian pinjaman yang diperoleh dari
prospek kelancaran penjualan dan pendapatan sehingga diperkirakan kemampuan
pengembalian pinjaman dapat ditinjau waktu jumlahnya.
4. Prospect: Prospect
adalah harapan usaha di masa yang akan datang dari calon debitur.
Macam-Macam Kredit
Macam-macam kredit atau jenis-jenis kredit
diklasifikasikan antara lain sebagai berikut...
1.
Macam-Macam Kredit Berdasarkan Kelembagaan
- Kredit Perbankan
- Kredit Likuiditas
- Kredit Langsung
- Kredit Pinjaman Antarbank
2.
Macam-Macam Kredit Berdasarkan Jangka Waktu
- Kredit Jangka Pendek (Short
term loan
- Kredit Jangka Menengah (Medium
term loan).
- Kredit Jangka Panjang
3.
Macam-Macam Kredit Berdasarkan tujuan atau Penggunaannya
- Kredit Konsumtif
- Kredit Modal Kerja atau Kredit
Perdagangan
- Kredit Investasi
4.
Macam-Macam Kredit Berdasarkan Aktivitas Perputaran Usaha
- Kredit Kecil
- Kredit Menengah
- Kredit Besar
5.
Macam-Macam Kredit Berdasarkan Jaminannya
- Kredit Tanpa Jaminan atau
kredit blanko (unsecured down)
- Kredit Jaminan
6.
Macam-Macam Kredit Berdasarkan Macamnya
- Kredit Aksep
- Kredit Penjual
- Kredit Pembeli
7.
Macam-Macam Kredit Berdasarkan Sektor Perekonomiannya
- Kredit Pertanian
- Kredit Pertambangan
- Kredit Ekspor-Impor
- Kredit Koperasi
- Kredit Profesi
- Kredit Perindustrian
8.
Macam-Macam Kredit Berdasarkan Penarikan dan Pelunasan
- Kredit Rekening Koran
- Kredit Berjangka
9.
Macam-Macam Kredit Berdasarkan Cara Pemakaiannya
- Kredit Rekening Koran Bebas.
- Kredit Rekening Koran Terbatas,
- Kredit Rekening Koran Aflopend,
- Revolving Kredi,
- Term Loans,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar